MEDIA LOKAL RAMAH & AKURAT

Kamis, 27 Agustus 2015

HUT DAN KEPEMIMPINAN PERUBAHAN

Pemuda Tuntut Perubahan Daerah 
Tahun 2015 adalah tahun dimana Kabupaten Lombok Utara genap berusia 7 tahun, daerah otonomi baru hasil pemekaran dari Kabupaten Lombok Barat. Ya, kabupaten yang terlahir dari perjuangan panjang para pejuang Lombok Utara. Hasil segenap elemen masyarakat tua maupun muda termasuk mahasiswa di dalamnya. Melalui UU Nomor 26 Tahun 2008 tanggal 24 Juni 2008 DPR RI menyetujui dan mengetok palu pembentukan Lombok Utara sebagai kabupaten baru bersama 11 daerah lainnya di Indonesia. Warga Lombok Utara yang ikut menyaksikan langsung proses tersebut sontak gembira dengan terkabulnya perjuangan yang gigih diperjuangkan bertahun-tahun lamanya tanpa mengenal lelah jiwa dan raga. Kini Lombok Utara sudah merdeka tapi masih banyak persoalan daerah yang belum tertangani dengan baik. Asa terbentuknya daerah baru yang benar-benar mandiri masih membutuhkan komitmen dan kerja nyata semua elemen daerah. Sebab terlahirnya daerah otonomi tidak terhenti pada proses terkabulkannya perjuangan untuk mekar. Akan tetapi, pekerjaan rumah yang jauh lebih sulit adalah bagaimana mengisinya dengan pembangunan di segala bidang secara adil dan merata. Nah, pada konteks inilah patut mendapat atensi semua pihak. Pasalnya, baik buruknya daerah ini kedepan tergantung sungguh dari komitmen dan konsistensi kita terutama para pemangku amanah pembangunan dan tentunya dukungan masyarakat dayan gunung untuk bahu membahu dan saling menopang antara semua pemangku pembangunan. Kerjasama yang lindan berkelindan dalam ritme dan irama seayun selangkah. Tanpa itu, sulit rasanya pembangunan daerah dapat berjalan sesuai harapan kalau tidak dikatakan jalan di tempat.         
            Kita semua tahu, lewat peringatan HUT tanggal 22 Juli lalu, daerah ini telah genap berumur 7 tahun, seusia anak baru masuk pendidikan dasar. Ini tentu butuh perhatian yang lebih. Sebab, dalam usia yang masih muda belia ini tentunya daerah ini masih bisa dibentuk. Kuncinya kesungguhan kita sebagai warga Lombok Utara dalam menyikapinya. Peringatan HUT merupakan momentum yang penting dan bersejarah bagi segenap lapisan masyarakat Lombok Utara. Betapa tidak, selain mengingat kembali amal bakti dan jasa-jasa para pejuang pemekaran sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita telah merasakan makna dari perjuangan di masa lalu dengan disahkannya daerah ini sebagai daerah otonom baru. Dengan dukungan masyarakat berbagai program pembangunan daerah pun dilaksanakan untuk menjawab kilas balik potret Lombok Utara di masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Untuk mengetahui sejauhmana jati diri daerah kearah lebih maju, sejalan dengan cita-cita luhur para pelaku sejarah yang menghendaki terjadinya pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat yang adil.
            Namun, apabila dikaji secara seksama, harapan besar di atas membutuhkan curahan pikiran yang brilian, kerja nyata dan kerja cerdas semua stakeholder. Sebab, masih banyak hal-hal yang belum mendapat atensi dan porsi yang proporsional. Inilah yang menjadi tugas berat segenap elemen daerah. Dan, pada titik ini pula komiten, kosistensi dan tanggung jawab kita sebagai warga Lombok Utara dipertaruhkan. Sebagai daerah baru yang sedang berbenah dalam membangun, perlu adanya penekanan pada beberapa hal mendasar untuk diperhatikan dalam tiap penentuan kebijakan berpembangunan dan berpemerintahan, seperti peningkatan kesejahteraan, peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan peningkatan SDM yang berkualitas. Berkaca kepada sejarah masa lalu dan didukung kondisi Lombok Utara saat ini dari berbagai aspek serta berbagai potensi yang dimiliki pelan nan pasti mesti hal-hal urgentif diatas tersikapi dengan baik. Kita semua tahu bahwa keberhasilan memerlukan peran serta semua pihak tanpa memandang status sosial, untuk mendorong dan mengawal pembangunan daerah. Butuh semangat kebersamaan dan kegotongroyongan semua pihak tentunya. Di lain sisi, kita tidak menutup mata bahwa daerah ini telah menunjukkan perubahan setahap demi setahap dalam tiga hal mendasar tersebut, tapi pergerakannya kurang akseleratif dalam rangka mengejar ketertinggalan dengan daerah lain. Meski beberapa prestasi telah ditorehkan, namun kita tak perlu bangga apalagi berpuas diri dengan penghargaan yang telah kita capai. Prestasi-prestasi itu harus kita jadikan pendulum dan cambuk untuk lebih berprestasi di masa mendatang dalam berbagai bidang. Berkait hal ini, butuh adanya semangat yang menyala, konsistensi dan komitmen yang teguh dari semua pihak terutama pemerintah sebagai garda depan pembangunan daerah. Pemerintahan merupakan pangkal dari pembangunan seluruh aspek yang harus dibangun, sehingga membangun dan menguatkan dasar adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Ada banyak aspek yang sangat penting dalam pembangunan sebuah daerah, yakni ekonomi, politik, kesejahteraan sosial, kesehatan, dan yang tak kalah penting adalah pendidikan sebagai pangkal tolak penciptaan SDM yang humanis, berakhlak mulia, unggul dan bermutu serta berdayasaing.

Kepemimpinan Perubahan
Pemimpin itu harus memiliki kredibilitas dan reputasi yang hebat agar mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat yang dipimpinnya. Momotivasi dan menginspirasi setiap orang dalam setiap detik di kehidupan, untuk bersemangat dan bangkit bersama dengan perubahan baru. Dan membuat setiap orang menyadari bahwa perubahan itu penting, untuk mengubah hal-hal yang tertinggal zaman dengan hal-hal baru yang sesuai peradaban. Dalam kaitan ini, Lombok Utara pun membutuhkan pemimpin yang punya visi besar membangun daerah, membangun kesadaran masyarakat. Pemimpin yang visioner, energik, berkarakter religius serta bermental pejuang – Pemimpin Muda dan Muda Pemimpin.
Sejarah telah menukil bahwa pemimpin muda adalah pemimpin yang memberikan solusi konkret bagi perbaikan masyarakat, bangsa dan negara, meski tidak semua. Mereka kebanyakan hadir sebagai manusia inspirator, berjiwa patriotisme, optimis, dan pantang menyerah. Kokoh secara akhlak, kokoh secara konsep/kokoh pemikiran, kokoh jaringan, dan kokoh secara ekonomi. Pemimpin yang mampu membawa misi perubahan memiliki keterampilan untuk dapat mengenali perubahan-perubahan penting serta mampu mengambil tempat di dalam hati setiap orang, agar semua orang dalam satu perahu bisa saling menyatu dan saling berempati, untuk membawa perubahan itu ke arah yang lebih memberi manfaat  positif buat perahu dan setiap penumpangnya. Selain itu, ia bisa membangkitkan semangat dan gairah perubahan dari setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan lebih cepat serta berjuang keras dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil perubahan yang lebih baik dari rencana yang ada dengan menggunakan cara-cara profesionalisme dalam merespon setiap perubahan. Karena itulah, pemimpin harus duduk bersama semua kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki untuk berbicara tentang perubahan-perubahan tersebut dengan cara yang inspiratif, profesional, cerdas memanfaatkan peluang untuk meraih kemajuan, mengedepankan model berpikir yang sederhana dan jelas sebab pola berpikir yang lebih sederhana akan mendekatkan semua solusi terbaik melalui logika dan akal sehat, yang dapat diukur kebenarannya.
Kontekstualisasinya dengan kebutuhan pembangunan daerah saat ini, maka Lombok Utara membutuhkan kehadiran pemimpin muda yang energik, visioner, humanis, dan tanggap atas harapan masyarakat dengan ciri dan karakter diatas. Pasalnya seperti penulis ulas di muka Lombok Utara kini sedang dalam fase berbenah diri dalam segala aspek pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya dengan daerah lain di NTB. Soal kepemimpinan muda, ada beberapa fakta menarik yang patut kita apresiasi. Pertama, pemimpin muda mampu memimpin lebih lama daripada pemimpin tua, luput dari kegagalan mereka dalam mengukir akhir masa kepemimpinannya. Kedua, pemimpin muda mampu mengangkat citra, harkat dan martabat masyarakatnya di mata publik luas. Sebagai bahan renungan, barangkali masih hangat dalam ingatan kita dengan sosok Ahmad Heryawan (47 tahun), gubernur Jawa Barat dua periode yang bertabur prestasi dan teruji berhasil memimpin kurang lebih 45 juta warga Jawa Barat, Muhaimin Iskandar (47 tahun), seorang politisi muda Indonesia, menteri di kabinet Indonesia bersatu jilid dua, Muhammad Anis Matta (45 tahun) adalah intelektual muda, politisi muda Indonesia yang cerdas, brilian, dan visioner, dijuluki Soekarno muda karena kepiawaiannya berorasi menggelorakan semangat di depan publik. Anies Baswedan (44 tahun), adalah intelektual muda, inisiator Indonesia Mengajar, kini sedang memegang amanah sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Republik ini. Kendati demikian, yang pasti, aspek usia bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan seorang pemimpin dalam memajukan wilayah yang dipimpinnya.  

Berbicara Lombok Utara kedepan, maka kita perlu menghadirkan pemimpin berusia muda untuk membawa daerah ini kepada perubahan, menuju suatu kemajuan gemilang, mengangkat citra, harkat dan martabat warga Lombok Utara. Dengan demikian, Lombok Utara butuh sosok pemimpin yang berusia muda, cerdas, religius dan visioner untuk menghantarkan daerah ini menjadi maju, adil dan sejahtera. Dengan kata lain, pemimpin yang mampu membawa masyarakat menjadi berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. Waktulah yang akan menjawab, dan kepada seluruh warga bumi Tioq Tata Tunaq-lah asa ini disematkan. SEMOGA...!!!

PILKADA SERENTAK : MOMENTUM MERETAS POLITIK TRANSAKSIONAL*

AKHIR-AKHIR ini, politik transaksional dalam pemilu/pemilukada menjadi bahasan serius berbagai kalangan baik di sosial media, institusi sosial, forum-forum ilmiah dan institusi akademis perguruan tinggi di Indonesia. Isu ini menjadi hangat diperbincangkan karena melihat sepak terjang partai politik dan rekam jejak (track record) politisi lima tahun terakhir dalam menjalankan amanah rakyat. 

Jika kita menakar kembali peran partai politik ditinjau dari sisi komunikasi politik dan paradigma sosial kemasyarakatan, maka sangat jelas bahwa modus politik transaksional telah mencederai fungsi partai politik sebagai saluran politik maupun lokus edukasi politik rakyat. Politik transaksional yang marak terjadi pada setiap momentum demokrasi pasca reformasi – entah pemilu legislatif, pemilu presiden dan pemilukada – jelas-jelas merupakan momok dan tantangan berat para aktivis politik (komunikator politik – politisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa maupun stakholders terkait lainnya).

Di tinjau dari sisi fungsi edukasi politik misalnya, politik transaksional telah mencederai sistem pendidikan politik bagi masyarakat. Maka kewajiban bagi semua pihak untuk memberi anjuran agar momentum Pilkada Serentak Tahun 2015 di NTB khususnya di Kabupaten Lombok Utara dapat dengan maksimal dijadikan sebagai ajang untuk meminimalisasi praktik politik transaksional, pasalnya selama praktik politik demikian masih saja dikedepankan, maka proses pendidikan politik gagal diimplementasikan. Oleh karena itu, para aktivis politik dari pelbagai kalangan yang ada di daerah ini harus berkomitmen dan konsisten mendorong agar partai politik dan calon yang diusung niscaya harus memperhatikan rambu-rambu estetika, etika dan moralitas dengan cara-cara yang elok, elegan, mengedepankan silaturahmi serta pendekatan langsung kepada masyarakat secara santun dan bijak. Selain itu, perlu adanya solusi yang benar untuk memecahkan problematika yang seolah-olah menjadi praktik yang lumrah terjadi secara terstruktur dan sistemik setiap kali pemilu /pemilukada berlangsung tanpa berujung.

Dalam pendekatan tatap muka langsung (direct face to face), silaturahmi sebagai pohon dan komunikasi santun yang menyiraminya. Maka, dalam kontestasi pilkada serentak tahun 2015 ini, komunikasi langsung kepada masyarakat penting sekali dilakukan untuk menyerap aspirasi dan memetakan kebutuhan masyarakat yang amat beragam. Contoh kasus problem kemiskinan misalnya, para kandidat kepala daerah dan wakil kepala daerah mesti berpikir mencari terobosan jitu bagaimana menciptakan lapangan kerja baru dan menyiapkan tenaga kerja siap pakai sesuai dengan standar dan kebutuhan daerah sebagai jalan keluar mengatasi kemiskinan dan penangguran daerah yang hingga kini masih tinggi. Kabupaten Lombok Utara sebagai salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat dengan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi harus mampu mengatasi persoalan pelik ini. Bagaimana caranya. Tentu cara yang paling tepat adalah meningkatkan standar pendidikan masyarakat, menyediakan lapangan kerja baru seperti mendirikan BUMD, membuka peluang wirausaha baru, menyediakan fasilitas pengelolaan usaha kecil menengah dan tentunya yang lebih penting menyiapkan tenaga kerja terampil agar terserap di internal daerah sebagai pengejawantahan makna otonomi luas dan nyata. Menurut hemat Penulis, tiada cara lain kecuali dengan cara-cara di atas. Sebab potensi sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lokal Kabupaten Lombok Utara sungguh luar biasa melimpah. Tinggal bagaimana pemimpin daerah ini kedepan mampu mengelola pelbaga potensi yang ada. Sebagai daerah otonomi baru, tentu jalan panjang menuju penataan segenap potensi yang ada masih terbentang luas.                            

          Kemudian, problem lain yang juga penting mendapatkan atensi kita adalah fungsi partai politik dalam memajukan pembangunan daerah, dimana salah satu fungsi partai politik yang mendasar adalah fungsi kaderisasi dalam rangka mencetak politisi-politisi ulung dikemudian hari, disamping mengedepankan edukasi politik secara langsung kepada masyarakat.

          Pemilu 2014 lalu menjadi contoh konkret betapa partai politik belum maksimal melakukan kaderisasi (mengajak orang-orang yang punya bakat dan talenta untuk masuk dalam gerbong politik), semisal pada tataran rekrutmen Caleg. Banyak sekali partai politik yang malah mengambil caleg dari orang luar partai sendiri tanpa latarbelakang pengetahuan politik yang mumpuni. Ini bisa dilihat dari banyaknya partai politik yang justru mengambil caleg dari luar partainya, padahal kader internal partai ada kalau tidak dikatakan banyak. Preseden buruk yang timbul kemudian adalah banyaknya kader internal partai hengkang dari partainya lalu memutuskan bergabung dengan partai lain yang dirasa dapat memberikan rasa nyaman serta mengakomodir kepentingannya. Fenomena kutu loncat ini juga bisa terjadi karena kenakalan politikus partai tertentu. Namun, satu hal yang patut diukir dalam untaian memori kita – fakta rekutmen caleg dari luar partai – tidak serta merta murni karena kesalahan kaderisasi disamping juga faktor kenalakan politikus tertentu.

          Berkaitan dengan konteks ini, maka semua pihak termasuk para pemuda dan mahasiswa harus ambil peran secara maksimal untuk mengawal proses politik secara berkesinambungan sembari melakukan pengawasan terhadap praktik politik yang tidak beretika. Artinya semua kalangan harus menjadi ujung tombak strategis dalam mengikis praktik politik transaksional di bumi Tioq Tata Tunaq, kini dan masa mendatang, terlebih lagi hampir di seluruh wilayah Kabupaten Lombok Utara didominasi oleh pemilih tradisional (± 70 %). NAH, pemilih dengan tipe tradisionalis inilah yang menjadi objek empuk praktik-praktik transaksi politik para politikus kerap terjadi di setiap momentum pesta demokrasi. Hingga tidak pelak lagi rakyat laiknya – membeli barang di pasar gelap – tapi apa hendak dikata dari pengalaman yang sudah-sudah di daerah ini, rakyat selalu terjebak dalam permainan jual beli suara. Akibat jangka panjang, rakyat ditinggalkan begitu saja oleh calon yang mereka pilih, dan bahkan persoalan rakyat pun justru kian bertambah. Dengan demikian, persoalan transaksi politik dalam tiap kali momen pemilu/pemilukada secara tidak langsung menyulut bertambahnya penderitaan masyarakat, bukan sebaliknya. Oleh karenanya, maka hal yang tidak boleh luput dari memori otak kita saat ini dan kedepan adalah keniscayaan untuk lebih mengedepankan urgensitas pemahaman politik yang jujur dan santun kepada masyarakat. SEMOGA...!




Pilkada dan Budaya Demokrasi Bangsa


Dalam bulan-bulan mendatang di Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima bakal digelar pemilihan kepala daerah atau pilkada langsung secara serentak.
Bukan sesuatu yang baru apabila pada saat-saat demikian calon-calon pimpinan daerah berjuang untuk menarik simpati rakyat, lantaran mereka ini membutuhkan suara mereka untuk mendukungnya menjadi pejabat daerah. Orang yang tengah memburu jabatan pantas diingatkan akan pepatah Jawa yang mengingatkan akan janji mereka ketika mereka susah. ‘Yen susah manembah, bareng mukti tali ngabekti’.
Bukan suatu kebetulan apabila manusia memilih seorang pimpinan yang baik harus ingat akan pedoman ‘darmaning pemimpin’ yang sudah sejak lama digariskan leluhur. Bahwa pemimpin yang baik itu adalah mereka yang mau sadar diri, mengakui kekurangan. Tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan kepandaiannya semata. Tetapi perlu mengasah diri untuk selalu introspeksi diri, berkaca kepada kekurangan yang senantiasa mengikuti dirinya. Ia berani ‘ngerucat diri’.
Memang sulit melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Yang umum, orang senang melihat keunggulannya sendiri. Tetapi biasanya orang menghindari kelemahan diri. Akibat jangka panjangnya, lupa dengan daratan dan kenyataan. Bila mampu berkaca kepada bulu kuduknya sendiri, bisa menjadi ‘lembah manah, ‘andhap asor’ hati lapang, seluas samudera. Dan  kemudian memahami betapa berharganya hidup manusia serta jagat yang tercipta.
Peringatan kedua tentang pemimpin adalah bahwa ia harus mampu menghadapi ‘bawana obah’, arus zaman. Ia harus berani menghadapi arus zaman, terbuka terhadap perubahan, jangan sampai terseret dalam arus yang menginjak-injak harkat kemanusiaan. Berani terbuka, hormat kepada sesama dan melawan keangkaramurkaan. Yang ketiga, hormat kepada sesamanya. Pasalnya, sekarang banyak orang mengaku cinta sesama, tapi hanya yang satu golongan, satu agama, satu ras, satu etnis saja. Hormat berlandaskan keyakinan bahwa manusia itu bersumber satu, yaitu Allah Swt. Kalau Yang Membuat Hidup cinta pada orang yang berbuat sengsara kepada kita, mengapa kita berani membalas memusuhi?
Yang terakhir adalah pengorbanan tanpa pamrih. ‘ngoyak galihing kuwasa’. Ini dilandasi pada cita-cita luhur bahwa hidup di masyarakat itu sesungguhnya adalah pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Dengan begitu ngoyak galihing kuwasa bukan ambisi untuk mencari kekuasaan dalam rangka mengumpulkan harta benda. Mengejar inti kekuasaan tidak lain berani mengorbankan harta kekayaan diri demi kesejahteraan rakyat. Ini mungkin yang bisa menjadi pokok pedoman kita secara utuh siapa nanti yang bakal menjadi pemimpin. Bukan lagi kepada siapa mereka akan dibayar tinggi untuk memilih.
Masih adakah para pemimpin yang mengedepankan darma yang tergurat dalam nilai-nilai luhur ini. Dan, sejauh mana ‘money politic’ sudah merasuk ke dalam wilayah budaya bangsa. Nilai-nilai luhur bangsa yang bertentangan dengan tradisi suap memang sedang berpacu di negeri ini. Tinggal bagaimana kearifan bangsa ini berkembang. Kalau hanya demi kepentingan sesaat, tentu zaman salah kaprah akan terus berjalan. Tetapi, demi kepentingan luhur bangsa supaya bangsa ini lepas dari jeratan kehancuran, sebaiknya nilai luhur warisan budaya pantas kembali mengemuka.
Semoga masyarakat kita semakin pandai dan semakin bijak dalam memilih pemimpin masyarakat nantinya. Yang perlu ditekankan yang kalah ya harus legawa. Lantaran budaya pemerintahan di Indonesia ini adalah gotong royong. Dan budaya politiknya adalah musyawarah. Kalau kalah bagaimanapun harus mendukung yang menang, sebaliknya jangan malah menjegalnya. Apalagi pakai mengamuk, merusak, mengintimidasi dan sejenisnya. Ini jauh dari budaya demokrasi di negeri yang bermartabat ini. SEMOGA ...!
   


Rabu, 24 September 2014

Menembus Jagat Maya dari Desa, Banyak Desa Sukses Bicara Ke Jejaring Dunia Tapi Banyak Juga yang Gagal



gangga (sambiwarga), Desa itu sebetulnya tak begitu jauh dari pusat kota kabupaten. Dihitung-hitung cuma 10 kilometer. Kendaraan bermotor bisa dipacu secepat kilatan halilintar, desa itu bisa dijangkau tak sampai 15 menit. Tapi 10 tahun silam, butuh waktu 1 samapi 1,5 jam ke Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara itu.
Ini dikarenakan akses jalan ke desa itu cukuplah buruk, sangat kontras dengan rata-rata desa lain di Pulau Lombok. Jangan ditanya soal telekomunikasi. Di sana, internet adalah mimpi, dan sinyal telepon seluler pasti raib. Kini, meski jalanan belum semulus aspal Kota Tanjung, desa ini sudah bisa dijangkau dalam tempo 15 menit dari kota kabupaten. Ini berkat terobosan pemerintah Kepala Desa Budiartha dan Kades sekarang Warna Wijaya. "Desa ini butuh Blog sosial media di internet," kata Warna
Awalnya tak mudah. Masyarakat desanya, seperti juga Yana, tak tahu banyak soal komputer, apalagi internet. Tapi dia yakin, saran adiknya pasti baik. Maka, ia tak segan minta tolong petugas warnet di kota. Ia naik motor butut berjam-jam ke warnet. Naskah buat blog itu dikirim ke adiknyaa. Lalu mengunggahnya ke blog. Begitu terus, hingga blog itu eksis.
Pada awalnya memang sulit. Tapi Yana terus belajar, hingga ia juga paham internet. Program desa di pelosok selatan kota itu pun tersiar ke sekujur bumi. “Tapi kerja ini belum maksimal,” kata Warna. Blog itu harus dikembangkan jadi web, dengan domain sendiri.

Kebangkitan Desa
Menembus jagat maya lewat teknologi informasi kini bisa jadi semacam titik kebangkitan desa. Sejumlah desa, seperti Melung dan Mandalamekar, secara terbuka mengibarkan gerakan migrasi ke open source. “Teknologi ini tengah digandrungi desa,” ujar Ketua LPM Giri.
Atas dasar itulah, pada awal Mei lalu, meluncurkan domain desa.id. Ini adalah usulan murni warga. Usulan diajukan karena desa sebagai satuan pemerintahan terkecil tak dapat memakai domain go.id. Soalnya, domain go.id hanya dapat dipakai hingga level kabupaten atau kota. Benar saja, setelah peluncuran, setidaknya 70 desa sudah registrasi. Empat di antaranya samba.desa.id, bentek.desa.id. Domain ini diharapkan mampu mendukung pengembangan konten wilayah pedesaan. “Kami berharap akan muncul konten-konten khas desa. Selama ini internet dikuasai kota,” katanya.
Belajar dari Melung dan Mandalamekar, penggunaan teknologi open source bisa memperbaiki tata kelola layanan pemerintahan. Mereka bisa memakai sistem pemerintahan elektronik (e-government) tanpa perlu dana besar yang menguras anggaran desa. Dampak lain, warga jadi keranjingan menulis. Tulisan, atau berita tentang desa pun mengalir ke berbagai situs dalam menjelajahi lawatan desa, warga segera mengunggah sepotong artikel.
Kebiasaan memakai internet juga menunjang sistem administrasi kantor bebas kertas (paperless). Mereka mulai terbiasa mengirim undangan dengan email. Tentu, lebih hemat ongkos, dan lebih banyak pohon selamat dari mata gergaji.

Tips Sukses Budidaya Tomat Era Modern

Tomat Budidaya

Gangga (sambiwarga), Tomat adalah buah yang terdapat di dataran cukup tinggi pegunungan dimana harganya tidak begitu mahal untuk mendapatkannya. Di Indonesia banyak sekali terdapat tomat yang beredar di pasaran maupun super market besar dan mudah sekali untuk didapatkan. Menanam tomat dalam sekala kecil di rumah mungkin tidak akan memberikan manfaat ekonomis yang besar bagi pegiatnya, namun bagi anda yang senang berkebun, menanam tomat hingga dapat berbuah lebat mungkin akan menjadi kepuasan batin tersendiri dalam berbudidaya tomat karena kemudahanya. Berikut langkah-langkah menanam tomat yang baik dan benar :

Tahap Menyemai Tomat
Apabila akan menanam biji-biji "tomat", diperiksa dulu barangkali ada kotoran-kotoran atau biji-biji yang keriput. Biji-biji "tomat" dijemur di sinar matahari sebentar di atas secarik kertas. Sementara menjemur, disiapkan persemaianya, berupa tanah bersih yang sudah diayak dan dicampur dengan pasir bersih pula (sdikit demi sedikit) dalam kotak. Biji-biji "tomat" yang sudah kering, kemudian di sebar rata, dan ditutup dengan tanah yang dilewatkan melalui ayakan pula di atasnya. Tidak perlu tebal-tebal asal tertutup saja. Setelah itu, jangan lupa menekan seluruh permukaan tanah dengan botol bir supaya biji-biji "tomat" tadi benar-benar menempel pada gumpalan tanah dan bukannya melayang di sela-selanya. Tapi botol itu jangan di gelindingkan seperti sepur tumbuk. Tekanlah biasa saja, supaya tidak ada biji-biji yang menempel pada botol dan ikut menggelinding ke tetangganya.
Supaya dapat menyiram persemaian ini dengan aman, sebaiknya menggunakan penyemprot obat nyamuk saja, yang sudah diisi dengan air bersih jadi tidak mengaduk-aduk tanah. Dan untuk melindungi biji-biji "tomat" terhadap serangan semut, tutuplah seluruhnya dengan kertas koran, sampai saat mereka berkecambah, namun jangan sampai terlambat membuka tutupnya, supaya tidak sampai kena cendawan. Bila kecambah-kecambah itu sudah berdaun, pilihlah yang bagus-bagus saja untuk di pindah ke dalam pot-pot kecil (satu pot satu tanaman) yang kemudian diletakkan di tempat yang teduh, supaya dapat menghela napas sebentar, setelah kaget direnggut dari tempatnya semula tadi. Baru keesokan harinya, pot-pot itu diletakkan di luar di atas bedengan-bedengan yang tinggi, untuk menikmati sinar matahari pagi. Namun semuanya harus dilindungi juga dengan atap rumbia, supaya tidak terlalu kepanasan, dan supaya tanah dalam pot itu sendiri tidak kering. Benamkanlah pot-pot itu dalam tanah bedengan sampai sedalam lehernya. Kemudian disiram tiap pagi hingga besar.

Tahap Menanam
Apabila bibit sudah siap tanam, maka Anda bisa memindahkan bibit pada media tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tanamlah tomat dalam keadaan tegak sempurna agar tomat tidak tumbuh condong atau berat sebelah. Setelah dipindahkan, siramlah tanaman tomat secara berkala pada pagi dan sore hari dengan menggunakan air yang dicampur dengan urea. Untuk minggu-minggu pertama penanaman tomat sebaiknya dihindarkan dari sinar matahari langsung agar tidak cepat layu.

Tahap Merawat
Untuk masalah perawatan, penyiraman bisa dilakukan secara berkala minimal dua kali sehari, yakni pada pagi hari dan pada sore hari. Disarankan untuk tidak berlebihan saat melakukan penyiraman. Dalam hal pemupukan, sebaiknya jangan menaburkan pupuk langsung ke tanaman, tapi diberi jarak kurang lebih 5cm-10cm dari batang tanaman. Pemberian pupuk dilakukan setiap 2 minggu sekali. Anda juga bisa melakukan pemusnahan hama dengan menyemprotkan pestisida, tetapi jangan berlebihan karena akan berakibat buruk bagi kualitas buah tomat yang dihasilkan. (swd)

Minggu, 21 September 2014

Kontrol Kebijakan, Perlu Ada Parlemen Jalanan

Sopyan, SIP (Tokoh Masyarakat Pemenang)

gangga (sambiwarga), Genderang Pemilu 2014 telah usai. Namun wajah-wajah baru legislator pengisi gedung Sriti lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Lombok Utara tampaknya sulit diharapkan mampu mengawal pembangunan daerah. Karenanya untuk mengontrol kinerja para wakil rakyat perlu adanya Parlemen Jalanan guna memastikan mereka benar-benar bekerja untuk rakyat dayan gunung. Demikian konklusi pandangan Sopyan, SIP tokoh masyarakat Pemenang.
Pemikiran cukup bernas itu dilontarkan Sopyan setelah melihat perjalanan sejarah pemilu pasca reformasi yang tidak lebih baik dari pemilu sebelumnya, apalagi banyak kalangan menilai proses pemilu 2014 paling bobrok karena penuh dibumbui penyimpangan misalnya politik uang. Hasil pemilu 2014 bisa dijadikan proyeksi kinerja anggota dewan. Ada beberapa prediksi yang kemungkinan terjadi, pertama, Rakyat tidak berhasil memilih wakil yang tepat. Kedua, bahwa karena minimnya informasi pembangunan yang diterima maka rakyat akan selalu dikebiri hak-haknya. Ketiga, adanya anggota dewan yang lihai dalam komunikasi massa hingga pada akhirnya rakyat terkelabui dengan janji-janji muluk.
Sopyan menambahkan, dalam kasus pemilu di Lombok Utara bahwa demokrasi membutuhkan pra syarat yaitu kuatnya eksistensi golongan tertentu yang tentunya berkepentingan. Golongan ini menjadi salah satu kunci keberhasilan sistem demokrasi, karena disamping merupakan tulang punggung masyarakat dalam banyak hal, mereka juga tak pelak menjadi penggerak masyarakat dalam peranan politiknya. Apabila golongan ini kuat maka mekanisme demokrasi dapat berjalan lebih baik. Sebaliknya jika golongan ini tidak kuat, maka demokrasi akan diwarnai dengan siapa kuat akan menang (intimidasi, politik uang, dan lainnya). Hanya dengan hadirnya para relawan demokrasi yang berjiwa penolong yang independenlah demokrasi yang sehat dapat berjalan. Tanpa adanya itu, sulit mengawal demokrasi, maka pemilu hanya akan menghasilkan pemerintahan yang akan lebih berperan menjadi pengelola kepentingan borjuasi lokal.
Oleh sebab itu lanjutnya, para cerdik-cendekia daerah ini harus berani tampil ‘berteriak’ lantang pada penguasa dan wakil rakyat agar mereka peduli pada kesejahteraan rakyat, gerakan reformasi 1998 adalah fakta sejarah bahwa parlemen jalanan efektif menjadi kontrol atas penguasa. Bila kita belum yakin bahwa saat ini golongan cendikiawan di dayan gunung telah cukup kuat untuk dapat mengawal demokrasi, maka parlemen jalanan nampaknya cocok menjadi pilihan apabila demokrasi kita ternyata tidak memenuhi persyaratan sesuai harapan masyarakat bumi Tioq Tata Tunaq. (dj)

Eksotiknya Tiu Bombong

Tiu Bombong Lombok Utara

gangga (sambiwarga), Lombok Utara sungguh banyak memiliki kekayaan wisata alam yang mengagumkan di Nusa Tenggara Barat. Kabupaten terbelia di bumi gora ini tak dinyana lagi bahwa potensi alam wisatanya memberikan pemasukan yang besar bagi pendapatan asli daerah.
Salah satu potensi wisata yang dapat memberi nilai plus bagi sektor wisata dayan gunung ialah air terjun Bumbung (baca: Tiu Bombong-bahasa Sasak). Objek wisata ini masih sangat alami dan airnya jernih kebiru-biruan. Ketinggian air terjun ini mencapai 150 meter dan debit airnya turun melambai menyusuri lempengan batu yang melekuk tinggi. Air terjun Bombong terletak Objek wisata ini terletak di Dusun Sempakok Desa Santong Kecamatan Kayangan KLU.
Tiu Bombong merupakan salah satu lokasi wisata alam yang sangat elok sehingga bisa mengalihkan pandangan siapa saja yang datang. Dalam menjalankan tugas, sambiwarga pernah melihat objek wisata ini secara tidak sengaja, ternyata pemandangan alamnya elok berseri. Airnya jernih sebening embun pagi. Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata wisata ini belum banyak dikenal oleh orang terutama wisatawan domestik maupun mancanegara. Penasaran dengan pesona kepesonaannya, awak sambiwarga lalu mencari informasi lebih jauh dengan mengungkap sekian cerita dan informasi dari warga yang berdomisili disekitarnya. Dari penuturan Slamet, bahwa Tiu Bombong membawa eksoktika tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya, sengaja maupun secara kebetulan. Menurutnya, objek wisata ini belum begitu dikenal banyak orang sehingga efeknya sepi dari kunjungan wisatawan, padahal memiliki keasrian yang amat indah. Wisata tiu bombong cocok untuk refresing atau membuang kejenuhan bagi orang-orang super sibuk.
Tiu bombong bisa memberikan kita corak dan landai keindahan tersendiri dan agak berbeda dibanding objek wisata lain yang sejenis, sebab diapit oleh dua jurang terjal dengan rona-rona pepohonan yang hijau alami, membatasi wilayah Kecamatan Gangga dan Kecamatan Kayangan. Namun ia memiliki nilai jual tinggi dan potensi wisata yang potensial berkembang dengan pesat apabila mampu dikelola dengan baik pihak terkait untuk menopang roda perekonomian masyarakat setempat.
Dari hasil lansiran Murmas.com terhadap beberapa orang warga saat dintanya mengatakan bahwa dikatakan tiu bombong karena punya sejarah yang panjang. Menurut Melsah, salah satu warga bahwa dulu kala ada orang pemburu rusa melintas di air terjun ini, kebetulan ia dilihat penduduk setempat lalu memberi tahu kepada sang pemburu bahwa di dalam air tiu bombong ada ikan tuna besar bertanduk dan bernas. Lalu si pemburu tadi tak jadi menyebrang air tiu ini. Selang beberapa tahuyn kemudian, ada pedagang parang ingin menyebrang tapi warga setempat memberi tahunya bahwa disitu ada ikan tuna besar bertanduk, tapi si pedagang tak percaya sehingga ia lalu menyebrangi air tiu bombong. Saat sampai di tengah aliran air, ikan tuna tadipun keluar dan beradu dengan si pedagang. Pendek cerita, si pedagang dapat mengalahkan ikan tuna tersebut sehingga selamat sampai tujuan. Untuk mengenang peristiwa luar biasa ini maka air terjun itu dinamakan Tiu Bombong.
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi wisata ini jangan takut dan ragu karena jalannya bagus dan tak memakan waktu banyak. Jarak tempuhnya kira-kira 16 km dari Tanjung dengan menggunakan kendaraan roda empat/roda dua. Setelah sampai kita bisa meminta bantuan jasa guide lokal. Selamat berselancar…..!!! (dj)