MEDIA LOKAL RAMAH & AKURAT

Selasa, 27 Mei 2014

Filterisasi Local Wisdom dari Pengaruh Negatif Zaman

Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu sedang Berbincang dengan Tokoh Adat Bayan 
GANGGA (SAMBIWARGA)---- Pelestarian adat-istiadat, budaya, situs dan cagar budaya yang ada merupakan hal sangat penting dilakukan, pasalnya pemeliharaan benda dan situs budaya menjadi tanggung jawab masyarakat bersama pemerintah daerah agar generasi mendatang mampu memahami dan mewarisi nilai-nilai budaya nenek moyangnya sebagai penangkal pengaruh negatif kemajuan dan perkembangan teknologi saat ini. Penegasan itu disampaikan Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH saat membuka Kegiatan Sanggar Pelajar dan Mahasiswa dalam Acara Dialog Bedah Situs Kabupaten Lombok Utara di Aula Kantor Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, beberapa waktu lau.
Bupati mempunyai obsesi agar Lombok Utara menjadi salah satu daerah di Indonesia yang mampu mempertahankan adat budayanya secara turun temurun sehingga budaya dan adat-istiadat itu pada gilirannya dapat menjadi kebanggaan daerah, bahkan kedepan Bupati akan mengkuatkan dengan membentuk Perda pelestarian adat-istiadat dan piranti-piranti kebudayaan. 
Tidak hanya itu lanjut bupati, pemda juga akan  mem-back-up dengan mencari bantuan khusus terhadap situs-situs budaya, terlebih lagi di era kemajuan teknologi saat ini yang membawa hal positif dan negatif sekaligus. Menurut Djohan, generasi muda dayan gunung perlu mengetahui dan mempelajari adat istiadat dan budayanya yang orisinil. Oleh karena itu, setidaknya ada dua hal  yang harus dilakukan bagi setiap individu untuk menangkal pengaruh negatif kemajuan teknologi yaitu mengamalkan ajaran agama dan memelihara adat-istiadat dan budaya asli daerah. Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Lombok Utara, Drs. Suhrawardi, M.Pd menambahkan kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka mempertahankan dan sekaligus melestarikan adat budaya di Kabupaten Lombok Utara yang plural dengan aneka ragam tradisi adat istiadat, situs sejarah serta sejumlah peninggalan budaya berupa benda bersejarah seperti rumah-rumah adat dan masjid kuno. Salah satu upaya pelestarian adat budaya yang dapat dilakukakan oleh pemerintah daerah adalah menerbitkan sebuah buku yang berisikan tentang ritual pelaksanaan prosesi Maulid Adat Bayan agar dikenal oleh masyarakat luas. “Alhamdulillah telah diterbitkan sebuah buku oleh Dikbudpora Lombok Utara berjudul Ritual Maulid Adat Bayan dan kini telah diedarkan secara nasional dengan tujuan agar nilai-nilai local wisdom Lombok Utara dapat dikenal secara luas, regional dan nasional,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Lombok Utara, Rianom, S.Sos, menjelaskan bahwa  kepedulian pemerintah terhadap situs-situs budaya yang ada diwujudkan dalam bentuk sosialisasi atau pemasyarakatan piranti-piranti kebudayaan agar kelestariannya tetap terjaga. “Sebenarnya kita cuma menguatkan dan mempropagandakan bagaimana animo masyarakat adat terhadap adat-istiadatnya karena sumber budaya itu sendiri kan ada di masyarakat adat, sehingga kegiatan sosialisasi cukup banyak kita lakukan agar muncul kepedulian pemerintah daerah terhadap situs situs yang ada, misalnya masjid kuno Bayan, kemudian makam-makam yang ada di sekitar masjid. Demikian pula dengan  situs-situs yang ada di luar, nah inilah tujuan kita sekarang ini menginventaris situs-situs yang belum bisa kita akomodir selama ini,” pungkasnya.
                Berkait situs budaya yang belum terakomodir, lanjut Rianom, pemda akan melakukan pendataan sesuai dengan ketentuan yang diamanahkan Dirjen Kebudayaan Pusat. “Nah saat ini, kita diminta oleh pemerintah pusat untuk mengumpulkan situs-situs yang belum terakomodir ini sehingga kegiatan pendataan situs yang ada di masing-masing daerah amat penting dilakukan, sehingga nanti hasilnya akan bisa terungkap. Selanjutnya akan kita dokumentasikan semua situs-situs itu menjadi sebuah dokumen lengkap. Inilah yang dapat memperkaya daerah kita kedepan,” beber Rianom.
                Terhadap rumah –rumah adat yang masih terpelihara di beberapa dusun pemda dalam hal ini – Dikbudpora – telah melakukan sosialisasi secara terus menerus kepada masyarakat luas terkait keutuhan bentuk dan fungsi rumah adat agar keasliannya tetap terjaga. “Alhamdulillah kita telah berusaha memberikan semangat kepada masyarakat adat sebagai penghuni rumah tradisional diantaranya di Dusun  Gumantar, Sembagek, Semokan, dan Karang Bajo yang dipertahankan supaya tidak berubah. Kemudian. di Loang Godek dan masih banyak sebetulnya rumah-rumah adat yang menjadi tanggung jawab kita bersama,” ulasnya. (dj)

Refleksi Realisasi Pembangunan Daerah

GANGGA (SAMBIWARGA) --- Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good government) maka perlu dilakukan penyampaian Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Kepala Daerah setiap akhir tahun anggaran. Penyampaian LKPJ akhir tahun 2013 merupakan mekanisme regular sebagai bentuk akuntabilitas  berpemerintahan, seperti yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara, beberapa waktu lalu berlangsung di Ruang Sidang DPRD 
Kabupaten Lombok Utara.
Rapat Raripurna yang dibuka tepat pukul 15.17 Wita tersebut dipimpin Wakil Ketua DPRD Lombok Utara, Burhan M. Nur, SH. Selaku pimpinan sidang, Burhan M. Nur menyatakan,  penyampaian LKPJ pada setiap akhir tahun anggaran oleh Pemerintah Daerah sangat penting untuk refleksi dan evaluasi pelaksanaan pemerintahan sejalan dengan upaya menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab serta mampu menjawab perubahan secara efektif dan efesien sesuai dengan prinsip tata pemerintahan yang baik dapat segera diwujudkan.
Hadir dalam penyampaian LKPJ tersebut antara lain Sekretaris Daerah, Drs H. Suardi, MH, seluruh Kepala Bagian Setda Lombok Utara dan pimpinan SKPD lingkup Kabupaten maupun lingkup Kecamatan, serta anggota Dewan khusyuk dan khidmat mengikuti pelaksanaan sidang. Menurut Burhan M. Nur, penyampaian LKPJ merupakan salah satu indikator dalam mencapai suatu keberhasilan pembangunan daerah.
Menurut Burhan, berdasarkan pasal 27 ayat 2 UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dinyatakan, selain mempunyai kewajiban sebagaimana ayat 1 UU tersebut, Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban memberikan pertanggung jawaban pemerintah daerah kepada pemerintah dan memberikan laporan keterangan pertanggung jawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan tersebut kepada masyarakat.
Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH dalam penyampaian nota pengantar LKPJ  menyatakan, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tahun 2013 mengacu pada dokumen RPJMD tahun 2011 – 2015 sebagaimana ditetapkan dengan Perda Kabupaten Lombok Utara Nomor 13 tahun 2010. Bupati menyebut, dengan berpedoman pada dokumen perencanaan pembangunan tersebut serta memperhatikan isu strategis yang dihadapi dan juga prioritas pembangunan nasional, maka prioritas pembangunan daerah Lombok Utara pada tahun 2013 secara umum difokuskan kepada beberapa aspek antara lain penanggulangan kemiskinan dan perwujudan ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, iklim investasi, lingkungan hidup, ekonomi kreatif dan kesatuan bangsa serta perlindungan masyarakat.
Implementasi dari kebijakan pembangunan tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh seluruh perangkat daerah berdasarkan Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Gambaran umum yang dapat dideskripsikan berkaitan dengan bidang pendapatan dan belanja daerah pada tahun 2013 ditargetkan 488,97 M rupiah lebih, realisasinya melampaui target yaitu sebesar 494,1 M rupiah lebih atau sebesar 101,05 %.
Target PAD sebesar 45 M lebih, realisasinya mencapai 49,62 M lebih atau sebesar 110,27 %, dan  memberikan kontribusi 10,04 % terhadap keseluruhan pendapatan, meningkat dari 8,6 % tahun 2012 dan 6,04 % tahun 2011. Kemudian Dana Perimbangan, dari target 402,5 M dapat direalisasikan sebesar 404 M atau 100,37 % dan memberikan kontribusi sebesar 81,78 % terhadap keseluruhan pendapatan serta pendpatan lain yang sah dari target 41,3 M terealisasi 40.4 M atau 97,6 % dan memberikan kontribusi 8,1 % terhadap pendapatan.
Sedangkan belanja daerah pada tahun 2013, lanjut Bupati, dipergunakan untuk belanja tidak langsung dan belanja langsung dengan target sebesar 547 M 27 juta rupiah lebih, terealisasi sebesar 514 M 527 juta rupiah lebih atau 94,06 %. “Realisasi belanja ini terus membaik dari kondisi tahun 2012 sebesar 89,54 % dan tahun 2011 sebesar  85,95 %,” kata Djohan.
                Untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang titik prioritasnya diukur dengan indikator angka kemiskinan dan indeks pembangunan manusia, Bupati menyatakan pada tahun 2011 hingga tahun 2012 telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dengan rata-rata penurunan sebesar 3,58 % / tahun, lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar 2,5 % / tahun.
                Peningkatan IPM Kabupaten Lombok Utara dari tahun 2012 terus menunjukkan kemajuan meskipun tidak seprogresif tahun 2011 namun tetap meningkat mencapai angka 61,37 %. Capaian ini menggambarkan Lombok Utara telah berada pada jalur yang benar. “Insya Allah, jika terus menerapkan strategi yang tepat dalam mengatasi isu strategis maupun permasalahan daerah, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu yang tak terlalu lama lagi Kabupaten Lombok Utara dapat sejajar dengan kabupaten-kabupaten lain di NTB,” harap Djohan.
                Selanjutnya, dari aspek mutu pendidikan dapat digambarkan dengan indikator kinerja pelaku pendidikan serta prosentase kelulusan siswa tiap tahun. Merujuk prosentase kelulusan dan nilai rata-rata UN menunjukkan perkembangan yang positif. Pada tahun 2013 prosentase kelulusan UN pada jenjang Pendidikan Dasar mencapai 100 % sedangkan di jenjang Pendidikan Menengah Atas mencapai 99,51 %, bahkan pada jenjang sekolah kejuruan/SMK mencapai 100 %.
                Untuk program kesehatan, pada tahun 2013 Kabupaten Lombok Utara berhasil menurunkan kasus kematian bayi dari 85 kasus di tahun 2012 menjadi 55 kasus di tahun 2013. Demikian pula kasus gizi buruk maupun gizi kurang dapat diturunkan dari tahun ke tahun. Sayang, angka kematian ibu nol (AKINO) yang dicapai pada tahun 2012 belum dapat dipertahankan di tahun 2013. Sedangkan untuk kegiatan infrastruktur jalan, pada tahun 2013 output infrastruktur jalan terus menunjukkan perkembangan yang signifikan, yaitu dari 209,07 km jalan kabupaten. Dari jumlah tersebut, 160,97 km dalam kondisi baik; 7,90 km dalam kondisi sedang; 8,02 km dalam kondisi rusak; dan 32,18 km dalam kondisi rusak berat. Selain infrastruktur jalan, infrastruktur perhubungan juga telah rampung dibangun, dimana pembangunan Terminal Tanjung Tipe B berhasil dituntaskan dan telah mulai dioperasikan triwulan pertama tahun 2014. Demikian pula dengan listrik dan air bersih. PLTMH dapat beroperasi di tahun 2014 yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah keterbatasan sumber energi listrik di kabupaten bersesanti Tioq Tata Tunaq.
                Khusus untuk infrastruktur perumahan, pada tahun 2013 pemerintah daerah terus melakukan program rehabilitasi rumah tidak layak huni sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya. Terbukti, pada tahun anggaran 2013 telah merehabilitasi 3.606 unit rumah tidak layak huni. Sebanyak 2.456 unit terpusat di Kecamatan Bayan dengan sumber dari APBN (Kementerian Perumahan Rakyat), 700 unit dari APBD Kabupaten dan 450 unit dari APBD Provinsi dan tersebar di 4 Kecamatan diluar  Kecamatan Bayan.
                Dalam nota LKPJ Bupati Lombok Utara kali ini, tidak luput pula dijelaskan hal-hal lain yang menjadi prioritas tahunan Pemkab Lombok Utara. Dari sisi pemerintahan, telah diselenggarakan koordinasi dengan instansi vertikal di daerah serta menjalin komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak guna menciptakan pemerintahan dan pembangunan yang aman dan kondusif.
Rencananya, kegiatan selanjutnya akan diadakan pemandangan umum fraksi-fraksi dan pembahasan antar komisi yang berkaitan dengan substansi LKPJ pada waktu mendatang. Pada akhir penyampaian Bupati melakukan penyerahan dokumen LKPJ kepada pimpinan dewan. (dj) 

Kades Diminta Meningkatkan Kinerja Memimpin

Ketua TP-PKK Lombok Utara Melantik Ketua TP-PKK Desa Sukadana
GANGGA (SAMBIWARGA) – Pemerintah desa merupakan ujung tombak pembangunan masyarakat di aras desa, karenanya Kepala Desa sebagai pucuk pimpinan desa harus mampu menata dan mengelola biduk pemerintahan desa sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Demikian ditandaskan Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH, saat memberikan sambutan pada acara pelantikan Kepala Desa Sukadana Terpilih, Sojati, di Aula Kantor Desa Sukadana Kecamatan Bayan, beberapa waktu lalu.
 Sebelum memberikan sambutan lebih jauh, Bupati Djohan, mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada kepala desa, aparatur pemerintahan desa,  dan seluruh elemen masyarakat Desa Sukadana atas pengabdiannya dalam membangun Sukadana bersama seluruh lapisan masyarakat setempat. Pelantikan kepala desa petahana yang sebelumnya telah memimpin Sukadana selama 6 tahun dan terpilih kembali secara demokratis dalam pemilihan yang digelar beberapa bulan lalu berlangsung khidmat dan seksama. Acara tersebut dihadiri segenap jajaran Pemerintah Lombok Utara mulai dari Asisten Pemerintah KLU, Camat Bayan, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan Tokoh Perempuan beserta sejumlah tamu undangan dari pelbagai lapisan masyarakat.
            Dikatakan, pemerintah desa merupakan struktur pemerintahan legal formal terkecil dalam sistem pemerintahan negara Indonesia, karenanya pemerintah desa adalah pihak yang berperan sebagai garda terdepan dalam tata kelola pemerintahan di Indoensia. Untuk itu, supaya pembangunan di desa dapat berjalan optimal maka kepala desa dituntut memiliki kapasitas mumpuni untuk membangun desanya. Di samping itu, selaku pucuk pimpinan desa, maka kepala desa harus mampu mengembangkan dan meningkatkan kinerja serta membangun jejaring kemitraan dengan pelbagai elemen terkait guna mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada, disamping meningkatkan wawasan berpikir serta bekerja membangun desa dengan semangat juang tinggi serta komitmen teguh. “Kepala Desa harus mampu merangkul semua golongan yang ada di  masyarakat sebagai modal vital membangun desa ini kedepan,” imbuh Djohan.  
Demi kelancaran tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan yang diemban enam tahun kedepan, dibutuhkan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat desa. “Kuncinya, harus mampu menyatukan hati dan pikiran dengan mengedepankan rasa kebersamaan, kesatuan, dan persatuan demi suksesnya roda berpemerintahan dan pembangunan,” pesan Bupati. Selain dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, hadir pula Ketua Umum TP PKK, Hj. Galuh Nurdiah Djohan Sjamsu beserta segenap anggota TP PKK Kabupaten Lombok Utara. (dj)


150 Peserta Kunjungi KLU, Kepedulian Pelihara Hewan Langka

GANGGA (SAMBIWARA),-- Sebagai daerah otonom baru di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Lombok Utara siap menerima kunjungan rombongan peserta  Rakernas SIWO PWI pada hari Sabtu, 17 Mei 2014 mendatang. Demikian yang dikatakan Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu, SH ketika menerima kunjungan Ketua PWI Nusa Tenggara Barat H. Sukisman di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.
Untuk menyambut kedatangan peserta Rakernas tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara akan menyiapkan tarian khusus untuk menyambutnya.Tarian yang dimaksud adalah Tarian Sireh yang natinya akan dibawakan oleh  siswi  SMAN 1 Gangga. Dimana Tarian Sireh ini pernah ditampilkan di PAB tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah tahun 2013 lalu.
Rencananya, pada saat kunjungan peserta Rakernas Siwo PWI ke KLU tanggal 17 Mei 2014 itu pun dijadualkan Bupati KLU akan memberikan sambutan terkait dengan potensi pariwisata yang menjadi andalan daerah ini. ” Ini tentu menjadi kesempatan yang baik untuk memperkenalkan potensi daerah,”imbuh Bupati.
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Barat H. Sukisman mengatakan, sekitar 150 orang peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Seksi Olahraga (SIWO) seluruh Indonesia ini sebelum di terima Bupati KLU, akan berkunjung terlebih dahulu ke beberapa obyek wisata yang menjadi andalan daerah Tioq Tata Tunaq. Diantara obyek wisata yang akan di kunjungi itu, menurut H. Sukisman adalah Restauran Malimbu 1 dan 2 serta pusat kuliner ikan bakar di Nipah.
Disamping itu, para peserta Rakernas SIWO PWI tersebut, juga dijadualkan akan melanjutkan perjalanan ke tempat obyek wisata yang ada di Gili Trawangan melalui Pelabuhan Bonty Teluk Nara Desa Malaka Kecamatan Pemenang. Ditempat itu nantinya para peserta akan di jadualkan untuk mengikuti kegiatan melepas penyu sebagai bentuk kepedulian dalam rangka ikut melestarikan keberadaan hewan langka tersebut.

“Selain anggota SIWO, juga akan hadir Ketua PWI Pusat dan Dewan Kehormatan Pers yang merupakan pemilik dari beberapa media besar yang ada di Indonesia,” kata Sukisman. (dj)

Senin, 06 Januari 2014

Perbaiki Perekonomian Masyarakat, Bupati Resmikan Bangunan UPPO KTT Ngiring Datu

Bupati KLU, H. Djohan Sjamsu, SH Memotong Pita pada Peresmian Bangunan UPPO di KTT Ngiring Datu
didampingi Camat Gangga Moh. Muldani, MM dan Kepala DPPKKP KLU Ir. Hermanto
GANGGA (SAMBIWARGA) – Kelompok-kelompok tani di Lombok Utara sedikit banyak telah berkontribusi membantu pemerintah daerah dalam rangka menanggulangi kemiskinan masyarakat di kabupaten terbelia di Nusa Tenggara Barat.  Ini menandakan masyarakat telah berperan aktif membangun Lombok Utara menuju daerah yang maju dan beradab. Demikian dikatakan Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian dan penyerahan bantuan bangunan kompos dan UPPO di Kelompok Tani Ngiring Datu Dusun Karang Kendal Desa Genggelang Kecamatan Gangga, Selasa (7/1).
Lebih lanjut bupati mengungkapkan, bantuan ternak untuk nelayan dan kelompok lainnya di Lombok Utara merupakan wujud kepedulian pemerintah guna mengentaskan kemiskinan masyarakat seraya menyerahkan traktor, sapi pejantan dan alat pengolah kompos. “Manfaat berkelompok disamping sebagai wahan silaturahmi juga memudahkan pembinaan kelompok kedepan. Pemerintah sedikit banyak telah memberikan bantuan yang mengarah pada perbaikan struktur ekonomi. Inilah program pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat,” tutur Bupati.  
Oleh karena itu, Bupati Djohan mengharapkan agar masyarakat  berusaha secara bersama-sama demi mewujudkan kesejahteraan kelompok kedepan. Menurutnya, kotoran sapi sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi biogas untuk bahan penerangan (lampu) dan keperluan memasak sehari-hari bila dikemas dengan tangan kreatif ditunjang peralatan teknologi tepat guna. “Banyak sekali manfaat kotoran sapi bagi pengembangan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.  
Sedangkan Ketua Kelompok Tani Ngiring Datu  Saijul Yadi,   menjelaskan anggota kelompok yang diketuainya hingga saat ini berjumlah 85 anggota dengan populitas ternak 251 ekor. Jumlah itu dapat dirincikan pejantan berjumlah 158 ekor dan betina berjumlah  93 ekor yang dianyam di lahan seluas 35 Are yang telah dikontrak dengan dana swadaya dari 85 anggota kelompok 5 juta/tahun.
Selanjutnya, Ia menuturkan hingga usianya KTT yang dibentuk 4 tahun lalu 10 % ternak milik anggota sendiri sedangkan 90 % adalah ternak kadasan. Dilakukan rapat bversama pada akhir tahun untuk mengevaluasi program-program kelompok guna bahan perbaikan selanjutnya. Kelompok ini berhasil mengumpulkan dana serjumlah 45 juta rupiah untuk memperbaiki dan mengembangkan kandang. “Dana ini murni swadaya warga kelompok tani,” tandasnya meyakinkan. Program lain yang dilakukan, sambungnya adalah Posyandu Ternak untuk memantau kesehatan ternak, selain pengelohan pupuk kompos, memfasilitasi anggota dalam pemesanan bibit.
Sementara itu, Kepala DPPKKP KLU Ir. Hermantro mengatakan, Bidang Peternakan telah menambah kontribusi yang amat besar dalam rangka memajukan sektor peternakan. Sejak KLU berdiri hingga saat ini banyak sekali sarana-prasarana bantuan berupa barang dan ternak di sektor peternakan diberikan kepada para kelompok tani ternak dan hingga tahun ini anggaran bantuan itu berjumlah 33,4 miliyar yang telah diberikan kepada 226 kelompok dari 395 kelompok peternak yang ada di bumi bersesanti Tioq Tata Tunaq. Hermanto menambahkan, bantuan berupa kandang, kompos, dan biogas pada tahun 2013 ini dimaksudkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat sehingga mampu memprodsuksi kompos dari kotoran ternak.  Bantuan kompos dan biogas ini khusus diberikan kepada kelompok yang memiliki populitas ternak yang besar. Di samping bangunan kompos tahun ini, pihaknya juga memberikan bantuan biogas, sehingga sampai tahun ini lokasi penerima biogas mencapai jumlah 850 se-Kabupaten Lombok Utara. 
Diakhir acara dilakukan penggutingan Pita sebagai tanda dimulainya penggunaan bangunan kompos bagi kelompok ternak setempat oleh Bupati Djohan Sjamsu didampingi Kepala DPPKKP, Ir. Hermanto dan saksikan seluruh tamu undangan. (dj)

Selasa, 24 Desember 2013

Penghulu Agung Ampenan, Dermaganya para Saudagar

Pantai Agung Ampenan
GANGGA (SAMBI WARGA), Berabad lamanya bersandarlah kapal-kapal para saudagar kaya di pantai Ampenan Lombok. Kedatangan para pedagang dari beberapa daerah dan negara ini untuk menyempurnakan ajaran agama Islam yang dirasa kurang sempurna saat itu. Mereka datang dari Palembang, Kalimantan,Sulawesi dan negeri kerajaan Arab Saudi. Pantai yang berolkasi di Ampenan selatan ini kerap di jadikan tempat perdagangan para saudagar yang berkunjung ke Lombok. Bebagai macam transaksi jual beli disajikan dipantai ini pada jamannya. Tak heran Para saudagar tersohor dari berbagai wilayah menyandarkan kapalnya dipantai ini.
Menurut H. Jalaludin Arzaki yang dikonfirmasi Sambiwarga dikediamannya menuturkan, pantai Ampenan pernah didatangi kelompok Datun Ribandan atau dikenal dengan datun Ribandang keturunan Minagkabau. Datun Ribandang datang untuk menyempurnakan agama Islam di Lombok. Kala itu ada beberapa rukun (ketentuan) dari agama Islam belum disempurnakan, yang mana rukun(ketentuan) sebelum datangnya Datun Ribandang adalah Syahadat, Sholat, Puasa. Rombongan Datun Ribandang pun menyempurnakannya menjadi lima rukun dengan menambahkan rukun Zakat dan Haji. Setelah semuanya dikatakan sempurna dengan melengkapi kelima rukun dalam Islam, tepatnya pada abad ke-17 bersandarlah rombongan kapal pedagang melayu asal Palembang. Kali ini, rombongan para saudagar melayu ini datang untuk melakukan pemantapan dari ajaran agama islam yang sudah diajarkan oleh para saudagar sebelumnya. Diantara sekian banyak pedagang dan para saudagar melayu itu, muncul salah seorang tokoh yang sangat berpengaruh. Tokoh ini dianggap berperan penting dalam penyebaran dan pemantapan pemahaman ajaran agama Islam. Ia adalah Penghulu Agung, sosok yang di hormati warga pesisir Ampenan Lombok.
Budayawan kesohor asal Lombok yang juga Ketua Majelis Krama Adat Sasak lebih lanjut mengatakan, sang pedagang melayu asal Palembang itu dikenal ramah dalam berinteraksi dengan warga sehingga ia sangat segani. Sambil berdagang ia menyebarkan agama Islam sampai ahirnya ia wafat di Lombok. Melihat tokoh yang begitu di segani dan sangat berpengaruh di wilayah Ampenan, sejak itulah nama pantai Ampenan bagian selatan tepatnya di wilayah Gatep deberi nama pantai Penghulu Agung yang dikenal sampai saat ini. Makam penghulu Agung pun dimakamkan di pemakaman Bintaro Ampenan, kata Jalaludin menceritakan.
Saat ini,puing-puing berejarah itu sudah tak terlihat, dermaga tempat bersandarnya kapal para saudagar itupun hanya menyisakan cerita. Hanya terlihat sebuah mercusuar sirine pengaman yang berdiri tegak di pinggir pantai Penghulu Agung Ampenan. Keberadaan Pantai Penghulu Agung yang menyimpan sejuta cerita mengundang simpatik salah satu seniman asal Lombok, Irwan Prasetya. Irwan pun kemudian menciptakan lagu yang berjudul Pantai Penghulu Agung. Dikatakan, Pemerintah Kota Mataram akan menjadikan kawasan pantai penghulu agung Ampenan sebagai destinasi wisata baru. “Di pantai ini nantinya akan dijadikan tempat berkumpulnya kuliner-kuliner Lombok untuk di perdagangkan terutama kuliner hasil laut. Beberapa sarana sudah mulai dilakukan pembenahan seperti pelebaran jalan dipinggir pantai dan penataan lingkungan pantai,” tukas Prasetya. (dj)



Gendu Rasa Dorong Akselerasi Pembangunan Daerah




Suasana Diskusi Tematik 
pada Acara Gendu Rasa Siu Ate Sopoq Angen
GANGGA (SAMBI WARGA), Masyarakat Lombok Utara memiliki pelbagai agenda pembenahan dalam rangka membangun daerah menuju perubahan yang dicita-citakan. Agenda tersebut punya satu tujuan supaya daerah otonomi baru ini bisa menyetarakan diri dengan daerah lain di Indonesia setidaknya dengan daerah kabupaten/ kota yang ada di lingkup Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Salah satunya melalui acara Gendu Rasa Siu Ate Sopoq Angen, sebuah acara tempat bertemunya para pihak dalam menentukan arah pergerakan pembangunan di daerah Kabupaten Lombok Utara. Acara ini yang mengambil tajuk Persembahan Bintang Paer Daya ini dirancang dengan desain yang apik sehingga dapat berjalan lancar sesuai harapan bersama. Kesuksesan itu tercapai berkat kerjasama dan prakarsa Bappeda KLU bersama YLKMP dan Access Phase II.  Para peserta gendu rasa ini berasal dari latar belakang yang berbeda warga, pemerintah, aktivis, kader pembangunan desa, organisasi non pemerintah, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh perempuan sekabupaten Lombok Utara.  Dalam acara ini segenap  lapisan masyarakat Lombok Utara diakomodasi dalam satu rasa dan keinginan. Gendu rasa sendiri bermakna berbagi rasa diantara seluruh elemen masyarakat dayan gunung untuk mensharingkan pelbagai hal terkait biduk agenda pembangunan serta perubahan yang terjadi dalam menata laju pembangunan di daerah yang masih muda belia ini.
Menurut Kamardi, istilah gendu rasa diangkat dari bahasa sederhana masyarakat Lombok Utara yang berasal dari bahasa leluhur nenek moyang terdahulu. Meskipun para peserta acara ini berangkat latar belakang keyakinan dan agama yang berbeda namun rohnya tetap satu, yaitu penyatuan tekad yang bulat dengan harapan agar bersemainya kemajuan bagi daerah baru di Nusa Tenggara Barat ini. Kamardi menuturkan, YLKMP telah berhasil menyeleksi bintang-bintang pembangunan paer daya. Mereka yang terpilih adalah orang-orang yang telah sukses gemilang mengangkat dan mempromosikan potensi daerah yang selama ini masih terpendam. Dalam hidupnya, mereka selalu menggaungkan kreativitas, produktivitas, karya nyata dengan daya imajinasi masing-masing. Sehingga, outputnya banyak warga di level desa mampu melihat, menilai lalu berperan aktif dalam proses pembangunan di desa masing-masing.    
Pertemuan sinergitas antara berbagai elemen daerah yang digelar di Gedung Serbaguna Kabupaten Lombok Utara,  Senin 23 Desember 2013, berhasil menampung pelbagai dinas terkait seperti Bappeda KLU, BPMD KLU, Dinas Sosnakertrans KLU, Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan informatika KLU, dan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga KLU beserta non government organisation yang telah berkontribusi nyata dalam akselerasi pembangunan daerah seperti AIPD, Access, Mitra Samya, LMNLU, LSDM, dan media lokal.
Pertemuan yang diselenggarakan dua hari tersebut akan mengupas tuntas tiga isu strategis berkait hajat hidup rakyat Kabupaten Lombok Utara, yakni Pelayanan Publik (PP), Perencanaan Pembangunan Partisipatif (PPP), dan Pengembangan Usaha Ekonomi Kreatif/Lokal Economics Development (LED). Penemuan benang merah dari tiap isu tersebut dikupas melalui forum diskusi tematik antara pemerintah daerah dengan masyarakat dayan gunung maupun pihak-pihak terkait lainnya. Pertemuan rutin tahunan masyarakat paer daya ini berhasil menggali berbagai informasi komprehensif mengenai problem urgentif kondisi terkini Lombok Utara, identifikasi dan seleksi para aktor pembangunan daerah serta hal-hal penting lain yang perlu diinisiasi bersama guna mempercepat akselerasi pembangunan di gumi paer daya pada masa mendatang.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menyambut positif pertemuan yang digagas oleh YLKMP bersama Bappeda KLU tersebut. Apresiasi positif itu terkuak dari pesan Bupati Lombok Utara Djohan Sjamsu, SH saat membuka secara resmi kegiatan lintas aktor pembangunan daerah tersebut. Dalam wejangannya, Djohan menyatakan, sesungguhnya Lombok Utara memiliki banyak aktor untuk percepatan pembangunan di gumi bersesanti Tioq Tata Tunaq. Aktor-aktor itu merupakan energi positif untuk memajukan daerah menjadi lebih maju dan beradab kedepan. Ia kemudian menyadari bahwa pembangunan daerah tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, lewat pertemuan tahunan itu, Bupati mengajak semua elemen untuk bersilaturahmi satu sama lain serta menghiasai gumi Tioq Tata Tunaq dengan prestasi-prestasi.
Di samping itu, menurut Djohan, gendu rasa merupakan ajang saling kenal, evalusi, dan ajang berbagi ide, gagasan, dan pemikiran diantara sesama warga dayan gunung untuk kemajuan daerah kedepan. Dalam kesempatan itu, Bupati Djohan juga menyampaikan keberhasilan KLU dalam meraih prestasi 3 nasional di bidang pemberdayaan perempuan lewat PKK. Prestasi itu, sambungnya, bukan prestasi pemerintah tapi prestasi seluruh warga masyarakat Kabupaten Lombok Utara.
Pertemuan yang dimulai sejak pukul 09.00 waktu setempat dihadiri oleh lebih kurang 500 orang dari semua desa yang ada di Lombok Utara dan acara penutupan seremoni pembukaan itu  ditandai dengan Louncing Peta Digital, sebuah program prioritas Bappeda Lombok Utara untuk memvalidasi data penduduk beserta segenap potensi yang dimiliki guna memudahkan proses penanggulangan pelbagai problem pembangunan daerah termasuk permasalahan kependudukan yang selama ini masih menjadi persoalan krusial di dayan gunung. (dj).