MEDIA LOKAL RAMAH & AKURAT

Minggu, 31 Maret 2013

Kemiskinan “PR Berat” NTB

PUTRAWADI, DEWAN AMAN NTB


GANGGA (KM SAMBI WARGA), Menapaki usia yang ke 55 tahun, Provinsi Nusa Tenggara Barat masih dihinggapi sejumlah permasalahan yang hingga kini belum terselesaikan dengan tuntas.
            Tokoh sekaligus pemerhati kemiskinan NTB, Putrawadi, mengatakan di usianya yang sudah setengah abad lebih ini kemiskinan masih menjadi masalah yang berat sekaligus momok yang mengkhawatirkan bagi provinsi yang terbentuk pada tahun 1958 ini. Tingkat kemiskinan masih cukup tinggi mencapai 18 persen. Kendati pemerintah daerah selama ini telah berbuat cukup banyak dan maksimal untuk mengurangi tingginya angka kemiskinan itu. Inilah tantangan cukup berat bagi para calon yang bertarung pada gawe Pilkada gubernur bulan Mei mendatang. “Pemimpin NTB yang terpilih dalam percaturan pemilihan gubernur nanti mesti berusaha lebih keras lagi, ini karena pengurangan angka kemiskinan yang telah  ditargetkan 2 persen dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) NTB sampai saat ini belum tercapai,” ujar Putrawadi.   
            Putrawadi menyoroti semakin maraknya konflik sosial akhir-akhir ini seperti bentrok antar warga dan konflik horizontal lainnya. Di sepanjang tahun 2012 lalu NTB tidak henti-hentinya dirundung konflik sosial yang berimbas tidak kecil, baik jiwa dan harta benda. Bahkan, diawal tahun 2013 ini fenomena yang sama pun terjadi seperti konflik masyarakat cakranegara beberapa waktu lalu. Tentunya kondisi ini membuat kita sangat prihatin. Dan, ini menjadi perhatian utama kepala daerah selanjutnya. “Jangan sampai hal-hal yang merusak kerukunan antarwarga terjadi lagi pada kepemimpinan daerah ke depan,” ingat aktivis AMAN NTB ini.
Maraknya konflik yang terjadi salah satu faktor pemicunya adalah tekanan ekonomi dan menganganya kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Dampaknya, situasi ini menimbulkan frustasi sosial yang mendalam dan tercermin dari mudah terhasutnya warga untuk melakukan tindakan anarkis dan destruktif. “ Semua ini ekses dari tekanan ekonomi yang cukup berat menghimpit masyarakat, ” tuturnya.
Aktivis yang sudah berselancar bertahun-tahun di AMAN ini melihat, bahwa selama ini setiap kali timbul konflik sosial, pemerintah dinilai tidak mampu mencari akar persoalan dibalik konflik sosial itu sehingga duduk perkaranya tidak pernah dapat diselesaikan hingga tuntas. Sesungguhnya, dalam penyelesaian konflik itu tidak hanya dapat menggunakan pendekatan keamanan dan formalitas semata tapi perlu melihat latar belakang yang menyulut terjadinya konflik. Sehingga kita tidak perlu heran kenapa konflik muncul berkali-kali bahkan menjadi rutinitas tahunan masyarakat.
Oleh karena itu supaya pelbagai problem sosial kemasyarakatan itu dapat terselesaikan sampai keakar-akarnya maka pemimpin NTB kedepan harus mampu membaca dinamika sosial masyarakat, peduli dan mengayomi masyarakat bahkan harus merasa senasib dengan masyarakat terutama warga miskin dan terpinggirkan.  Karenanya para calon yang bertarung pada Pilkada Mei mendatang harus mampu menawarkan konsep-konsep jitu dan praktis-pragmatis untuk menyelesaikan sekian problematika yang tengah dialami jutaan masyarakat Nusa Tenggara Barat bukan hanya mengumbar janji-janji muluk yang pada akhirnya cuma bikin kaum miskin dan termarjinalkan kecewa dan traumatis yang mendalam.
Setidaknya pemimpin NTB kedepan harus mampu menjawab tiga problem besar yang hingga kini masih membuat daerah ini terseok-seok dibanding daerah lainnya di Indonesia. Pertama, masalah kemiskinan dan pengangguran. Kemiskinan dan penganguran merupakan problem terbesar provinsi ini yang tidak pelak telah  membuat daerah ini masih jauh ketinggalan dengan daerah lain. Indikator masih tingginya kemiskinan itu salah satunya diperlihatkan oleh masih banyak warga miskin yang belum memiliki pekerjaan tetap yang dibuktikan dari masih tingginya masyarakat pengangguran dan setengah menganggur terutama di wilayah-wilayah pelosok dan pesisir pantai. Untuk mengatasi masalah ini pemimpin kedepan mesti mampu menawarkan konsep-konsep strategis yang dapat memberi ruang pekerjaan kepada masyarakat pengangguran dan setengah menganggur tersebut.
Kedua, masalah kesehatan. Kesehatan menempati urutan kedua masalah besar yang menghinggapi NTB. Masih banyaknya angka kematian ibu dan anak dalam beberapa tahun terakhir ini mengindikasikan masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Karenanya, pemimpin kedepan harus mampu menawarkan konsep-konsep kesehatan yang memadai, pelayanan kesehatan yang prima dan kebijakan kesehatan yang populis. Selama ini masyarakat selalu dihadapkan pada kebijakan yang menyulitkan, mata rantai birokrasi yang panjang dan berliku-liku ditambah pelayanan kesehatan yang lamban dan tidak ramah bisa dijadikan indikator untuk membuktikan fakta tersebut. Ini harus dijawab dengan pelayanan yang ramah, terbuka, transparan dan kebijakan kesehatan yang populis atau propoor. Di samping manajemen kesehatan yang praktis dan mudah diakses masyarakat.
Ketiga, masalah pendidikan. Dunia pendidikan di Nusa Tenggara Barat hingga saat ini dianulir banyak kalangan belum mengalami kemajuan meskipun telah terjadi perubahan pada manajemen dan pola pendekatan. Tetapi belum memberikan efek siginifikan bagi peningkatan indeks pembangunan manusia NTB. Ini terbukti NTB masih tetap menempati urutan 32 dari 33 provinsi di Indonesia. Meski diakui pembangunan SDM merupakan pembangunan jangka panjang yang hasilnya tidak bisa dicapai secara instan namun setidaknya kebijakan dan pola manajerial pendidikan yang mengalami perubahan itu semestinya memberi efek kemajuan. Masalah lain, anggaran pendidikan juga tidak beranjak meningkat, semestinya harus terealisasi 20 persen baik dari APBD maupun APBN. Anggaran yang belum terealisasi optimal ini mengharuskan para pemangku kabijakan daerah ini kedepan harus berkomitmen kuat agar pos anggaran yang jumlahnya 20 persen itu benar-benar dapat terimplementasi sesuai amanat konstitusi untuk membiayai pengelolaan pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Ketiga problema besar di atas mestinya segera dapat dituntaskan oleh pemangku kebijakan daerah agar predikat NTB dapat berubah menyesuaikan kondisi zaman dan pergerakan peradaban manusia seperti di negara-negara maju yang mengalami kemajuan pesat bak pesawat terbang yang terbang melesat di angkasa raya.                     

Putrawadi adalah Pemerhati Masalah Kemiskinan dan Pengurus Wilayah AMAN NTB  

Pembukaan MTQ Bentek Diantusiasi Warga

Wabup KLU H. NajmulAkhyar Beri Ucapan Selamat KepadaPanitia MTQ Bentek


GANGGA (KM SAMBIWARGA), Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Desa Bentek yang diselenggarakan di Masjid Nurul Iman Todo berlangsung semarak. Pasalnya, halaman masjid jami’ desa setempat dipadati warga dari berbagai wilayah di Bentek. Antusiasme warga mengikuti jalannya acara pembukaan membludak sampai-sampai jalan raya di depan masjid dijejali massa yang berarti antusiasme warga menghadiri arena musabaqah cukup tinggi. Dari lansiran Media SW (Kamis, 28/03/2013) penonton yang menyemuti halaman masjid setempat diperkirakan mencapai 400-an orang.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Putrawadi, menyatakan peserta MTQ Desa Bentek 2013 ini diikuti oleh enam dusun. Dari enam dusun yang mendaftarkan diri itu, sambungnya, semua dusun menurunkan kafilah hampir pada seluruh cabang mata lomba. Dua diantara enam dusun yang mengirim peserta paling lengkap adalah Dusun San Baro, sedangkan yang paling banyak kafilahnya adalah Dasan Bangket, tetapi tidak semua mata lomba diikuti.
Meskipun musabaqah tilawatil qur’an sudah sering diadakan, namun tingkat kehadiran warga menonton tak pernah surut. Namun kegiatan ini pernah surut beberapa tahun dan bangkit kembali pada tahun 2007 yang juga tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat. Meski begitu, penyelenggaraan lomba kali ini memang berbeda dengan beberapa tahun lalu, sebab animo warga tidak sebanyak saat ini. Penonton tak cuma berasal dari masyarakat Desa Bentek saja namun juga berasal dari Desa Jenggala dan Desa Gondang. Lomba yang diselenggarakan pada masa awal kepemimpinan Warna Wijaya ini berjalan lancar dan aman sesuai harapan semua pihak.
Sekretaris Paitia Lomba, Erwin Rahadi, ketika ditemui Sambi Warga di sela-sela lomba, mengatakan, lomba MTQ kali ini bisa berjalan sesuai harapan bersama. Hal ini berkat dukungan dan partisipasi pelbagai kalangan di Bentek terutama para pemuda. Atas kelancaran pembukaan MTQ tersebut ia mengucapkan rasa terima kasih kepada semua lapisan masyarakat Bentek yang sangat antusias menyambut dan mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. “Kami ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada warga Bentek terutama masyarakat Todo karena telah mendukung dan membantu pagelaran MTQ ini. Tanpa dukungan penuh banyak pihak mustahil kegiatan yang kami inisiasi ini bisa berjalan lancar,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Desa Bentek bahwa MTQ yang diprakarsai beberapa kaum muda Bentek ini mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat desa  setempat terutama masyarakat Todo sebagai tuan rumah. Pria yang berambut pirang ini lebih jauh mengungkapkan, pemerintah desa memberi apresiasi cukup tinggi kepada para pemuda yang peduli terhadap membangun desa lewat penyelenggaraan musabaqah qur’an ini guna melahirkan generasi yang berkualitas dengan penghayatan kandungan alqur’an. Kegiatan MTQ menjadi program unggulan pemerintah Desa Bentek dan setiap tahun akan dilaksanakan secara rutin. “MTQ kegiatan rutin desa ini selama tampuk kepemimpinan berada di tangan saya,” bebernya (dj)     

Latihan Rutin untuk Memenuhi Kontrak Pentas

 GROUP KECIMOL GEMA CITRA RINJANI BENTEK
 GANGGA (KM SAMBIWARGA) Potensi kesenian lokal sebagai aset budaya dan tradisi  masyarakat akan mengalami perkembangan pesat di Kecamatan Gangga. Seperti yang dialami Kecimol Gema Citra Rinjani. Sebagai campuran antara kesenian klasik dengan kesenian modern, kecimol ini tampak mengalami perkembangan akhir-akhir ini. Hal ini dapat dilihat dari padatnya aktivitas latihan pada triwulan pertama tahun 2013. Pemadatan jadwal yang semula cuma sekali dalam seminggu berubah menjadi 3 kali dalam seminggu. Ditetapkannya penambahan jadwal itu disepakati bersama dalam musyawarah antaranggota serta didasarkan atas pertimbangan banyak masyarakat yang menyewa atau mengkontrak pementasan.
Penambahan waktu latihan itu dibenarkan oleh salah satu pengurus kecimol setempat, EKA. Menurutnya bertambahnya jadwal latihan itu sudah disepakati dalam rembug anggota. Meskipun kegiatan latihan tetap diadakan sejak kesenian ini lahir. Anggota lain, Sabdi, juga mengutarakan hal yang sama bahwa latihan itu untuk mematangkan kecakapan para anggota dalam memainkan alat sebelum terjun pentas yang telah diagendakan ke beberapa wilayah di Gangga serta memaksimalkan penampilan saat pentas. Dalam Maret ini, lanjutnya, kami telah dikontrak oleh beberapa warga di wilayah Gangga seperti Genggelang, Rempek dan Gondang.    Latihan kami adakan 3 kali dalam seminggu untuk mematangkan kecakapan anggota sebelum pentas yang biasanya kami lakukan sore hari,” paparnya. 
            Menurut anggota lain yang enggan diberitakan mengatakan, hingga kini kecimol setempat masih tetap eksis sesuai harapan awal pembentukan kesenian ini. Ini karena kecimol Gema Citra Rinjani ini lahir untuk membangkitkan semangat masyarakat agar  lebih memahami kaedah dan signifikansi kesenian bagi kehidupan manusia. Dalam pandangan gitaris GCR, Sunaidi, kecimol pada dasarnya memiliki nilai-nilai estetis dan eksotik yang luhur. Keluhuran nilai estetika dan eksotika itu tampak dari antusiasme penonton yang secara tak sadar kerapkali terbawa arus dan berdendang diiringi dengan tetabuhan musik kecimol. Bahkan kecimol ini telah melalang buana diseantero bumi TIOQ TATA TUNAQ hingga ke luar daerah seperti Lotim dan Sumbawa Barat. “Sampai saat ini kami sudah pentas baik di dalam wilayah maupun ke luar wilayah dayan gunung,” ketusnya. (dj) 

Kasubdit Binapenta Kemenakertrans RI Tinjau Bakong Indah

Kasubdit Binapenta Kemenakertrans RI


GANGGA (KM SAMBI WARGA),­ Kepala Sub Direktorat Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Erna Noviati, meninjau langsung Kelompok Usaha Kecil Pertukangan Bakong Indah Desa Bentek Kecamatan Gangga. Tinjauan lapangan itu dilakukan untuk melihat perkembangan kelompok pertukangan setempat sebagai salah satu sasaran Program Perluasan Kesempatan Kerja Ditjen Binapenta RI. Tujuan peninjauan itu untuk mengevaluasi layak atau tidaknya kelompok setempat diberikan program Terapan Teknologi tepat Guna.
Erna mengungkapkan pemerintah pusat lewat direktorat yang dipimpinnya punya banyak program pemberdayaan kelompok-kelompok usaha masyarakat pedesaan di seluruh belahan nusantara. Kegiatan itu juga dilakukan sebagai kepedulian pemerintah mengentaskan kemiskinan  masyarakat dari sisi ekonomi, disamping program tersebut relevan dengan agenda utama pemerintah KLU dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui konsep Gaung Daye Emas sebagai manifestasi program MP3EI , dmana hal ini menjadi indikator terciptanya progresifitas akselerasi perkembangan dan kemajuan pembangunan perekonomian daerah.
            Di tempat yang sama Kepala Bidang Tenaga Kerja Kabupaten  Lombok Utara, Artadi, SH, saat memberikan pengayaan tentang prospek program pemerintah daerah khususnya instansi yang dinaunginya saat mendampingi Kasubdit Binapenta RI di Sekretariat Bakong Indah, San Baro, Desa Bentek, Kecamatan Gangga.
Lebih lanjut, Artadi, menegaskan, masih sangat banyak masyarakat miskin di kabupaten termuda di NTB ini yang perlu dibina lewat program penumbuhan usaha ekonomi produktif. Karenanya, tahun 2013 pemerintah pusat akan menggelontorkan program pengembangan kapasitas usaha ekonomi produktif yang dilakukan serempak, seperti Terapan TTG, Padat Karya Produktif (PKP) dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM). Diakhir pengarahannya, ia berharap supaya warga yang berkecimpung di ranah usaha benar-benar bekerja  dan berusaha dengan ikhlas dan ulet dengan tetap menonjolkan semangat guna meraih cita-cita yang telah dicanangkan bersama anggota kelompok. Acara yang memakan waktu kurang lebih satu jam setengah itu berakhir pukul 11.00 wita.
Sedangkan TKS Pendamping, Eka Sasmita, mengatakan, perlu adanya spirit berusaha bagi kelompok dalam rangka memicu dan menumbuhkan semangat anggota dalam membangun ekonomi lewat kegiatan berwirausaha secara produktif, mandiri dan profesional. Upaya itu ditempun guna membantu masyarakat miskin mencari solusi meminimalisasi agar bisa keluar dari situasi yang kemiskinan yang melilit akibat krisis ekonomi global yang tak kunjung surut. (dj)     
 



Rabu, 27 Februari 2013

Akhir Maret, Lima Dusun Gelar Pilkadus Serentak

Suasana Rapat Kerja Panitia MTQ Desa Bentek

GANGGA (KM Sambi Warga), Setelah dua bulan lalu masyarakat Desa Bentek menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala desa untuk memilih pemimpin yang menahkodai siklus pembangunan di wilayah setempat, dimana perhelatan itu sempat menjadikan suasana hidup  bermasyarakat tegang, kini giliran lima dusun di Bentek juga akan mengadakan hal sama yaitu pemilihan kepala dusun yang juga memiliki tujaun sama ‘memilih pemimpin’ yang mampu mengawal dan menjalankan program pembangunan di level dusun. Kelima dusun yang bakal menyelenggarakan perhelatan demokrasi itu terdiri dari Dusun Batu Ringgit, Selelos, Buani, Luk Pasiran dan Baru Murmas.
            Meski Pilkadus dijadwalkan pada akhir Maret nanti, namun beberapa wilayah yang akan menghelat pesta demokrasi ini sudah menampakkan iklim politik yang cukup hangat dan eforis sekaligus gejala pertarungan yang sengit. Pasalnya, tokoh-tokoh di beberapa dusun bersangkutan telah melakukan kampanye politik sejak dua bulan lalu. Pun para bakal calon juga tampak melakukan hal serupa, sehingga diprediksi kontestasi pemilihan berlangsung sengit serta kompetisi antara para bakal kandidat juga ketat. Indikasinya banyak pihak mensinyalir persaingan tak terelakkan dibumbui oleh kepentingan masing-masing bakal calon dan tim pemenangannya. 
Suhu politik ini diamini oleh Putrawadi ketika dikonfirmasi Jurnalis Sambiwarga saat rapat kerja Panitia MTQ Desa Bentek di aula kantor desa setempat, kemarin (27/02). Menurutnya, Pilkadus yang akan diselenggarakan di lima dusun tersebut akan berlangsung seru. Namun yang terpenting, lanjutnya, Pilkadus merupakan  suatu proses pembelajaran berpolitik dan berdemokrasi bagi masyarakat. Hal ini penting diperhatikan oleh semua elemen masyarakat terutama generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan harus cermat membaca proses demokrasi. Aktivis Dewan AMAN NTB ini berharap agar Pilkadus tak terlalu dimuati kepentingan-kepentingan tertentu, sebab demokrasi mengajarkan manusia bersikap arif untuk memilih calon pemimpin yang mampu membangun masyarakat menjadi lebih baik dan maju. “Proses demokrasi harus dijalankan dengan niat membangun agar kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, maju, dan sejahtera. Apalagi di tengah globalisasi zaman serba kompleks ini, demokrasi mestinya dipraktekkan sesuai perkembangan zaman,” urainya. Putrawadi juga menceritakan, proses berdemokrasi di Desa Bentek termasuk level dusun mulai mengemuka dan berkembang pesat setelah terjadinya pergantian kepemimpinan desa tahun 1999 dari rezim otoriter ke rezim elegan-demokratis.
Di era sebelumnya, sambung Put, demokrasi di wilayah desa setempat vakum dan mati suri yang ditandai dengan demokratisasi masyarakat terpasung. Ini terjadi karena pada era orde baru hak-hak asasi masyarakat dibungkam oleh pemerintah mulai dari level teratas hingga level terbawah. Namun, gaung reformasi 1998 yang bergema sampaii ke pelosok-pelosok nusantara membuka kran demokrasi terbuka lebar, dan waktu ke waktu semakin eforik pada semua proses-proses demokrasi, baik pemilihan legislatif, presiden, gubernur, bupati/wali kota, kepala desa hingga kepala dusun.
Di tempat terpisah Kepala Desa Bentek, Warna Wijaya, menuturkan keterbukaan dan kebebasan berdemokrasi termasuk Pilkadus mulai menyeruak di ruang publik sejak era yang historis itu menggema di setiap sudut penjuru mata angin. Dikatakannya, sebelum momentum paling bersejarah tersebut lepas landas di Indonesia, demokrasi berpolitik dan demokratisasi masyarakat tertutup rapat, namun angin segar segera muncul setelah reformasi digaungkan para tokoh reformis nusantara. “Sesungguhnya apapun jenis proses demokrasi itu harus diberi ruang yang bebas, terbuka dengan seluas-luasnya, karena prinsipnya tidak satu pun orang boleh  menghalanginya karena hal itu bagian dari hak asasi manusia yang paling hakiki,” ujar Warna. Akan halnya dengan Putrawadi, ia juga berharap supaya proses-proses demokrasi yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat Desa Bentek mesti didorong dan ditumbuhkembangkan agar kedewasaan demokrasi itu terwujud, sehingga masyarakat beserta varian-varian kehidupannya menjadi lebih maju, elok, elegan, demokratis, selaras dan beradab. Kendati begitu, tingkat demokratisasi masyarakat Bentek sudah terbangun dengan baik, sehingga potensi ini perlu dikembangkan agar terus hidup dan bersenyawa pada diri setiap orang sehingga kehidupan masyarakat lebih maju dan bermartabat guna menunjang tercapainya taraf masyarakat yang madani sebagaimana cita-cita reformasi. (Dj) 

Tingkatkan Kualitas Pendidikan dengan Konsep Sistem Terpadu


Foto Guru SDN 5 Bentek



GANGGA (KM SAMBI WARGA), SDN 5 Bentek merupakan satu-satunya sekolah dasar favorit di Desa Bentek Kecamatan Gangga. Sekolah ini berhasil karena menerapkan manajemen sistem terpadu dalam pengelolaannya.
Sekolah ini sebelumnya tergolong sebagai sekolah yang masih diragukan mutunya. Predikat ini disandang melihat kinerja manajerial sekolah yang masih dibawah rata-rata. Namun, kini predikat itu telah berubah total setelah pihak pengelola berspekulasi mengubah pengelolaan sekolah dengan menerapkan sistem manajemen terpadu.
Menurut Kepala SDN 5 Bentek, I Putu Kaler, S.Pd.SD, keberhasilan sekolahnya selama ini tidak bisa diukur secara parsial tapi harus diukur secara komprehensif dengan cara pandang yang luas. Semua penilaian tergantung masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya. Jika dinilai baik, maka pihak sekolah harus bersyukur dan menjadikannya sebagai motivasi untuk tetap mempertahankan kualitas sekolah tersebut.  
Selama ini kata Kaler, pihaknya sudah memberikan yang terbaik bagi siswa dan masyarakat. Pengelolaan manajemen dengan sistem terpadu di sekolah yang dipimpinnya telah mengantar semuanya menjadi sekarang ini. Dia bersama para guru di sekolahnya telah berkomitmen untuk selalu berkoordinasi dalam setiap hal. Sehingga, tidak ada satu pun hal yang diputuskan secara otoriter. “Intinya, Kami menerapkan sistem kekeluargaan dan demokrasi. Semua persoalan dipecahkan dan diputuskan bersama,” pungkasnya.
Alhasil, sekolah ini mampu meraih banyak prestasi. Buktinya, pada perlombaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Mata Pelajaran Tahun Pelajaran 2013/2014 yang diselenggarakan oleh Gugus II Gangga di SDN 2 Bentek, sekolah ini mampu meraih banyak prestasi, misalnya Juara I Cerdas Cermat Mata Pelajaran PSPkn, Juara I Cerdas Cermat Matematika dan IPA, Juara I Lompat Jarak Pendek, Juara I Lari Jarak Jauh, dan Juara II Olahraga Sepak Bola serta masih banyak juara-juara seterusnya.
Tidak hanya sekali sekolah ini menggondol prestasi. Olimpiade matematika saja sudah bebera kali mendapatkan juara. Diantaranya pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tahun Pelajaran 2011/2012 yang diselenggarakan oleh Gugus I Gangga, sekolah ini mendapat prestasi yang memuaskan. Rata-rata juara I. “Masih banyak lagi prestasi yang kita peroleh. Juara harapan belum kita hitung,” ketus Kaler.  
Atas semua prestasi ini, sambung Kartoriadi, salah seorang guru di sekolah setempat, mengaku menyerahkannya kepada masyarakat untuk menilai. Jika memang dikatakan baik, maka pihak sekolah akan tetap menjadikan semua penilain itu sebagai motivasi untuk lebih baik, lebih berprestasi dan lebih maju lagi di masa mendatang. Yang pasti tandas, Karto, aturan di sekolahnya dijalani secara fair. Jika ada siswa, guru bahkan kepala sekolah datang terlambat setelah apel pagi, maka tak diizinkan masuk. “Nah seperti itulah yang kami lakukan selama ini. Ke depan akan kita tingkatkan semangat untuk berprestasi menjadi lebih baik lagi. Kami ingin menyandang predikat favorit selamanya,” tegas Kartoriadi. (Dj)       
               

Minim Pembinaan, Berjualan untuk Cukupi Kebutuhan Keluarga

Perkumpulan Pengusaha Kerupuk Lowang Sawak Todo


GANGGA (KM SAMBI WARGA), Berkumpul bukan sekedar bercerita keadaan masing-masing, tetapi mengikat sekaligus menguatkan hubungan emosional sesama anggota. Sikap ini terbangun guna memacu diri dalam kebersamaan. Itulah selaksa makna yang dapat dipetik dari arti sebuah perkumpulan.  
            Ada yang tampak spesial dari perkumpulan kaum hawa yang berlangsung sejak satu tahun lalu di Perkumpulan Pengusaha Kerupuk Lowang Sawak Dusun Todo. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap minggu ini memberi makna yang mendalam bagi kelanggengan hidup bertetangga. Mereka rata-rata mengandalkan keuletan agar bisa bertahan hidup di tengah getirnya himpitan ekonomi sebagai dampak krisis ekonomi global yang masih berlangsung hingga saat ini. “Dapur kami sering tidak berasap kalau tidak berjualan. Pemerintah harus memperhatikan kami, ekonomi kami seperti apa. Jangan hanya mengenyangkan perut sendiri. Jangan cuma menjual aset rakyat sebagai produk jualan bagi pemenuhan kebutuhan elit saja,” ungkap salah seorang warga yang enggan diwartakan namanya saat dihubungi, kemarin.
Sebagian besar suami mereka bekerja sebagai buruh kasar, yang penghasilannya sudah barang tentu tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Penghasilan suami mereka berkisar 30 ribu sampai 45 ribu per hari, sementara tanggungjawab yang bergantung di pundak mereka tidak sesuai dengan penghasilan yang diperoleh. Setiap hari mereka membanting tulang dan mengucurkan keringat demi menghidupi keluarga. “Mereka juga sama seperti warga di sekitarnya yang hidupnya berkecukupan. Kalau orang lain sejahtera, ya mereka juga berhak sejahtera,” ketus salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Di beberapa kampung lain, profesi serupa juga dilakukan ibu-ibu juga kerapkali  ditemukan. Harapannya, Tuhan memudahkan mereka menuntut rejeki meski hanya dengan berjualan kecil-kecilan yang penting halal ketimbang memeras keringat rakyat dengan merampok kekayaan dan aset-aset rakyat. “Ini lebih baik ketimbang makan keringat orang banyak,” pungkas salah seorang anggota perkumpulan. Namun begitu, mereka tetap berharap adanya kepedulian dan perhatian khusus pemerintah untuk membina usaha yang mereka jalankan. Capaiannya, kedepan usaha yang dikembangkan bisa berkembang dan meningkat sehingga mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan masyarakat umumnya. (anda)