GANGGA – KM
SAMBI WARGA, Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan budaya tersendiri yang beraneka
ragam sebagai bukti otentik dari pluralitas bangsa. Pluralitas itu juga tampak
dari pelbagai jenis kearifan lokal yang hidup dan tumbuhkembang di pelbagai
daerah di tanah air, salah satunya Lombok Utara Nusa Tenggara Barat.
Lombok Utara sebagai bagian dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia juga memiliki aneka kearifan lokal baik budaya,
bahasa, kesenian, keyakinan, suku, dan lain-lain. Satu di antara kearifan lokal
itu berupa gendang beleq. Gendang Beleq merupakan jenis kesenian sasak termasuk
masyarakat sasak Lombok Utara khususnya masyarakat Kecamatan Gangga.
Gendang Beleq termasuk perkakas kesenian
lokal masyarakat dayan gunung yang
dipergunakan sebagai hiburan, karena kesenian ini sering tampil untuk menghibur
masyarakat terutama bagi warga yang memiliki hajat gawe (nyongkolang dan sunatan maupun keperluan lain). Kesenian ini memiliki
nilai kearifan lokal tinggi. Gendang beleq mempunyai peralatan seperti gong,
gendang, kemong, ceng-ceng, gender dan seruling. Di tengah kemajuan zaman yang
berkembang pesat saat ini perlu upaya memelihara item-item budaya lokal guna
menghindari agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman yang kian modern dan makin
edan. Urgensi mempertahankan kearifan lokal sebagai buah budaya tradisional karena
terbukti telah banyak warisan budaya ditinggalkan oleh generasi kita. Banyak
sekali kita lihat generasi muda lebih senang dan menyukai budaya barat
ketimbang budaya nenek moyangnya, padahal itu membuat mereka lupa diri dan tidak
mengenal jati diri.
Contoh
kasus generasi muda zaman sekarang lebih suka musik rock dan pop ketimbang
musik dangdut, padahal dangdut merupakan musik asli ciptaan bangsa kita. Mereka
juga lebih menyukai band-band berbau westernis ketimbang musik ketimuran yang
sebenarnya lebih mengangkat nilai-nilai kehidupan ketimuran (keindonesiaan -
kesasakan). Generasi dayan gunung juga tak dapat ditampik sudah terjangkiti
virus kebaratan sehingga bisa kita saksikan mereka lebih senang dan gila dengan
budaya global yang justru bertendensi merusak mental mereka. Beberapa gambaran
di atas adalah contoh nyata betapa generasi kita lupa terhadap warisan nenek
moyangnya.
Dalam
kaitan ini, maka menanamkan kecintaan generasi muda terhadap gendang beleq
merupakan salah satu upaya yang dapat ditempuh guna memelihara nilai-nilai
kearifan budaya lokal agar tidak lekas punah dan ditinggalkan oleh pewaris
aslinya. Gendang beleq memang hanya bagian kecil saja dari cara yang bisa
dilakukan untuk mempertahankan budaya lokal yang ada di tengah masyarakat kita.
Masih banyak perkakas budaya lokal lain yang juga memiliki nilai kearifan yang
tinggi. Gendang beleq adalah fenomena menarik belakangan ini telah menyedot
banyak kalangan – tua – muda – di tengah masyarakat dayan gunung, sehingga perlu
dilestarikan dan dipelihara kelangsungannya supaya tak cepat tergerus oleh
kesenian modern. Seni ala kebaratan sebenarnya alat ampuh bagi bangsa barat
untuk mengikis kesenian tradisional. Kesenian modern itu tak lebih dari –
sempalan bahkan kedok belaka – bangsa-bangsa barat untuk menjajah mental
generasi kita (bangsa Indonesia).
Maka, menumbuhkan rasa cinta generasi
muda terhadap kesenian tradisonal (gendang beleq misalnya) dengan cara melatih,
mengajari, menanamkan pemahaman mereka niscaya dibutuhkan agar warisan leluhur
nenek moyang kita tidak tercerabut dari benak dan mental generasi muda. Mentalitas
mereka perlu dijejali dengan nilai-nilai budaya asali supaya mereka tidak
kehilangan jati diri dan orisinalitas budaya. Sehingga, akhirnya generasi kita dapat
mencintai, memelihara, merawat dan mempertahankan akar budaya leluhur mereka yang
orisinil dan sarat nilai kehidupan. (dj)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar